KUDUS – Centininews.id | Pemerintah Desa Wates menggelar rangkaian kegiatan budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Desa Wates ke-171. Mengusung tajuk “Satu Pekan Gelar Budaya”, kegiatan tersebut berlangsung meriah dengan menghadirkan tradisi leluhur, kegiatan religius, hingga hiburan rakyat yang melibatkan berbagai unsur masyarakat desa.
Kepala Desa Wates, Abdullah Shofi, mengatakan bahwa rangkaian kegiatan selama sepekan tersebut menjadi wadah mempererat silaturahmi sekaligus upaya melestarikan budaya warisan leluhur.


“Kami menyelenggarakan banyak kegiatan, mulai dari manakiban, selawatan, ziarah makam leluhur, hingga hiburan seperti Barongan lokal, Reog Ponorogo, akustik, dan pementasan teater sebagai penutup,” ujarnya di sela kegiatan.
Salah satu agenda yang paling menyita perhatian warga adalah tradisi “Munjung Wong Tuwo”. Tradisi tersebut melibatkan para Kadang Anom atau generasi muda desa dari berbagai lembaga dan elemen masyarakat.
Peserta yang terlibat berasal dari Kopdes, Bumdes, kelompok tani, karang taruna, pengurus RT dan RW, tokoh masyarakat, hingga perwakilan warga dari 17 RT dan 6 RW di Desa Wates. Mereka berjalan bersama membawa tenong berisi nasi ingkung dan jajanan pasar untuk diberikan kepada para sesepuh desa atau Kadang Sepuh.
Dalam prosesi tersebut, para sesepuh kemudian memberikan untaian padi kepada generasi muda sebagai simbol doa keberkahan dan harapan agar pertanian masyarakat tetap subur serta kehidupan warga semakin makmur.
“Ini adalah bentuk rasa syukur dan bakti kami kepada orang tua dan sesepuh. Kami ingin generasi muda selalu ingat untuk menghormati mereka yang telah mendahului,” tambah Abdullah Shofi.
Tradisi Munjung Wong Tuwo sendiri telah berlangsung secara turun-temurun dan menjadi salah satu identitas budaya masyarakat Desa Wates. Selain sebagai simbol penghormatan kepada orang tua, tradisi tersebut juga mengandung nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghargaan terhadap hasil bumi.
Kemeriahan HUT Desa Wates juga semakin terasa dengan hadirnya pertunjukan seni budaya seperti Barongan lokal dan Reog Ponorogo yang disambut antusias masyarakat. Warga dari berbagai usia tampak memadati lokasi acara untuk menyaksikan rangkaian hiburan rakyat tersebut.
Selain itu, suasana religius juga terasa melalui kegiatan manakiban, selawatan, dan ziarah makam leluhur yang menjadi bagian penting dalam rangkaian peringatan hari jadi desa.
Abdullah Shofi menegaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan secara mandiri tanpa menggunakan dana desa dari pemerintah pusat. Pembiayaan kegiatan berasal dari APBDes dan swadaya masyarakat.
Setiap RT secara sukarela memasak dan membawa nasi ingkung masing-masing untuk mendukung suksesnya tradisi Munjung Wong Tuwo. Tercatat sekitar 30 nasi ingkung terkumpul dari berbagai elemen masyarakat dan lembaga desa.
Meski sempat diguyur hujan lebat sehingga beberapa agenda mengalami penyesuaian jadwal, antusiasme warga tetap tinggi mengikuti seluruh rangkaian kegiatan budaya tersebut.
Abdullah Shofi berharap tradisi yang telah diwariskan sejak zaman dahulu itu dapat terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda sebagai bentuk nguri-uri budaya sekaligus penghormatan kepada leluhur desa.
“Harapan kami adalah nguri-uri budaya. Ini tradisi yang sudah ada bahkan sebelum saya lahir. Semoga anak-anak muda terus mengingat dan menjalankan nilai-nilai bakti kepada orang tua melalui budaya ini,” pungkasnya.(muslim)










