KUDUS – Centininews.id | Kondisi rumput di kawasan Alun-Alun Kudus pada Minggu malam, 4 Oktober 2026, menuai sorotan tajam warga. Di tengah ramainya aktivitas dan pengunjung, hamparan rumput yang seharusnya menjadi wajah ruang terbuka publik justru terlihat memprihatinkan.

Bahkan, dari pantauan warga di lokasi, nyaris tidak ditemukan rumput yang masih hidup. Sebagian besar permukaan terlihat kering, mati, menipis dan berubah menjadi tanah berdebu.

Briyan, warga Kudus sekaligus pengunjung, mengaku miris melihat kondisi tersebut.
“Ini bukan sekadar rumput rusak. Kalau dilihat sekarang, hampir tidak ditemukan rumput yang hidup. Yang terlihat justru tanah kering dan debu,” ujarnya.
Menurut Briyan, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius. Apalagi Alun-Alun Kudus merupakan fasilitas publik yang semestinya dirawat agar tetap nyaman dan memiliki nilai estetika.
“Kalau kegiatan membuat alun-alun ramai, itu bagus. Tapi jangan sampai ramai acaranya, sementara rumputnya mati semua. Setelah acara selesai, siapa yang memperbaiki?” sindirnya.
Ia juga mempertanyakan apakah biaya pemulihan kerusakan nantinya kembali dibebankan kepada pemerintah.
“Jangan sampai biaya perawatannya mahal, tetapi begitu dipakai kegiatan malah rusak parah. Uang untuk memperbaiki lagi kan akhirnya uang rakyat juga,” tegas Briyan.
Kritik serupa sebelumnya disampaikan aktivis Kudus, Soleh Isman, yang menyoroti dampak aktivitas di kawasan tersebut.
“Biaya perawatan tinggi, dirusak dengan impact rendah. Hancur,” kritik Soleh.
Kini warga berharap pengelola dan pemerintah tidak menutup mata terhadap kondisi rumput Alun-Alun Kudus.
Pertanyaannya sederhana: jika hampir tidak ada lagi rumput yang hidup, kapan akan dipulihkan? Dan siapa yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut? (SB)










