Sekretariat PPDI Kudus Disurvei Kesbangpol, Organisasi Perangkat Desa Tegaskan Komitmen untuk Kudus Dituduh “Gila Laki-Laki” Setelah Jual Rumah, Siti Sumanah Ceritakan Fakta Sebenarnya Sentuhan Humanis Polsek Kudus: Selamatkan Masa Depan Anak Terlantar yang Hidup di Jalanan Dari Warisan Leluhur hingga Kirab Budaya, Sejarah Sumur Bandung Honggosoco Terus Dijaga Tradisi Apitan Wonosari Tetap Lestari, Warga Rebutan Berkat dan Ngalap Berkah di Sendang Kanoman Lawan Ancaman ‘Elnino Godzilla’, Polsek Kudus Rangkul Petani Jagung Perkuat Ketahanan Pangan

News

Dari Warisan Leluhur hingga Kirab Budaya, Sejarah Sumur Bandung Honggosoco Terus Dijaga

badge-check


					Dari Warisan Leluhur hingga Kirab Budaya, Sejarah Sumur Bandung Honggosoco Terus Dijaga Perbesar

Kudus – Centininews.id | Desa Honggosoco kembali menggelar tradisi tahunan Kirab Hasil Bumi dan Budaya di kawasan petilasan Sumur Bandung, Dukuh Honggowangsan, Minggu (10/05). Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut diikuti ratusan warga dari RW 4 dan RW 5 dengan melibatkan sedikitnya 10 kontingen dari berbagai RT.

Tradisi budaya yang rutin dilaksanakan setiap Bulan Apit dalam penanggalan Jawa itu menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas hasil bumi sekaligus bentuk pelestarian sejarah dan budaya leluhur desa.

 

Kepala Desa Honggosoco, Baedlowi, mengatakan tradisi Sedekah Bumi dan Kirab Budaya Sumur Bandung merupakan warisan turun-temurun yang harus terus dijaga keberlangsungannya.

“Ini bukan hanya acara budaya biasa, tetapi bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus penghormatan terhadap sejarah leluhur desa. Kami berharap tradisi ini tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Sejarah Sumur Bandung dan Mbah Onggo Wongso

Ketua P3B (Pangarsa Pametri Punden dan Belik) Mbah Honggosoco, Muh Nur, menjelaskan bahwa kawasan Sumur Bandung memiliki nilai sejarah penting bagi masyarakat setempat.

Menurut cerita para sesepuh desa, kawasan tersebut berkaitan erat dengan sosok Mbah Onggo Wongso atau Mbah Honggosoco yang dikenal sebagai tokoh penyebar agama Islam di wilayah setempat dan diyakini masih memiliki hubungan dengan dakwah Sunan Muria.

“Sumur Bandung ini sudah ada sejak zaman dahulu dan menjadi sumber kehidupan warga. Tradisi kirab dan sedekah bumi terus dilakukan agar masyarakat tidak melupakan sejarah desanya,” jelas Muh Nur.

Ia menambahkan, masyarakat hingga kini masih menjaga petilasan dan kawasan sumur secara swadaya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Ritual Air Sumur Bandung Jadi Daya Tarik

Salah satu prosesi yang paling menarik perhatian warga adalah pengarakan air dari Sumur Bandung menggunakan kereta budaya.

Masyarakat percaya air dari sumur tersebut memiliki karomah dan membawa keberkahan.

“Air ini dipercaya warga bisa membantu menyembuhkan berbagai penyakit. Setelah dikirab biasanya malam hari warga mengambil air atau mandi di sumur bagi yang merasa kurang sehat,” terang Muh  Nur.

Prosesi tersebut menjadi tradisi khas yang selalu dinantikan warga setiap perayaan sedekah bumi berlangsung.

Gunungan Hasil Bumi Diperebutkan Warga

Selain ritual air sumur, kirab gunungan hasil bumi juga menjadi pusat perhatian masyarakat. Gunungan yang berisi hasil pertanian, buah-buahan, sayuran, dan jajanan tradisional diarak keliling kampung sebelum akhirnya diperebutkan warga.

Tradisi rebutan gunungan dipercaya membawa berkah dan simbol kemakmuran bagi masyarakat.

Suasana semakin meriah dengan antusiasme warga yang memadati sepanjang jalur kirab sejak pagi hari.

Seorang pengunjung bernama Difa (13) mengaku senang dapat menyaksikan tradisi budaya tersebut secara langsung.

“Ramai sekali tadi waktu rebutan gunungan. Banyak warga senang dan acaranya meriah,” ujarnya.

Diawali Bakti Sosial dan Hiburan Rakyat

Rangkaian acara sebenarnya telah dimulai sejak Sabtu dengan kegiatan bakti sosial berupa cek kesehatan gratis bekerja sama dengan UPT Puskesmas Tanjungrejo.

Pada malam harinya, masyarakat disuguhi pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi ciri khas petilasan Mbah Honggosoco serta hiburan campursari.

Kepala Desa Honggosoco, Baedlowi, mengapresiasi kekompakan masyarakat yang terus menjaga tradisi budaya secara swadaya.

“Seluruh kegiatan ini berjalan berkat gotong royong masyarakat dan para donatur. Semangat kebersamaan seperti inilah yang harus terus dijaga,” katanya.

Harapan Menjadi Desa Wisata Budaya

Muh Nur berharap tradisi budaya dan sejarah yang dimiliki Desa Honggosoco mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Kabupaten Kudus agar dapat berkembang menjadi desa wisata budaya dan religi.

 

 

“Potensi budaya di Honggosoco sangat besar, mulai dari sejarah Mbah Honggosoco, tradisi sumur, punden, hingga kirab budaya yang masih lestari sampai sekarang,” pungkasnya.

Hingga seluruh rangkaian acara selesai, kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Antusiasme warga dinilai menjadi bukti bahwa warisan budaya leluhur masih terus hidup dan dijaga oleh masyarakat Honggosoco hingga saat ini.(Azis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sekretariat PPDI Kudus Disurvei Kesbangpol, Organisasi Perangkat Desa Tegaskan Komitmen untuk Kudus

13 Mei 2026 - 06:53 WIB

Dituduh “Gila Laki-Laki” Setelah Jual Rumah, Siti Sumanah Ceritakan Fakta Sebenarnya

13 Mei 2026 - 06:34 WIB

Sentuhan Humanis Polsek Kudus: Selamatkan Masa Depan Anak Terlantar yang Hidup di Jalanan

12 Mei 2026 - 02:20 WIB

Heboh Bau Menyengat dari Rumah Warga Wergu Kulon Kudus, Ternyata Ada Jenazah di Dalam

7 Mei 2026 - 12:04 WIB

Viral! 6 Tahun Tinggal di Gubuk Seng Bersama Anak SMP, Sulatin Tolak Kios Karena Takut Tak Mampu Bayar

7 Mei 2026 - 11:44 WIB

Trending di Headline