KUDUS — Centininews.id | Keberadaan sebuah punden yang berada di lingkungan SMP PGRI di wilayah RT 06 RW 03 menjadi perhatian masyarakat setempat. Meski berada di tengah lingkungan permukiman warga, punden tersebut diketahui tidak pernah digunakan untuk kegiatan ritual adat maupun selamatan bersama warga desa.
Salah seorang warga RT 11 RW 03, Hadi Sucipto, menjelaskan bahwa hingga saat ini tidak pernah ada agenda “manganan” atau tradisi selamatan desa yang dipusatkan di lokasi tersebut. Menurutnya, masyarakat lebih memilih melaksanakan kegiatan doa bersama dan tradisi adat di punden-punden lain yang memang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan spiritual dan budaya warga.


“Tidak pernah ada kegiatan untuk selamatan warga di situ,” ujarnya saat ditemui.
Ia menuturkan, punden yang berada di area sekolah itu lebih sering digunakan untuk kepentingan internal sekolah, seperti doa bersama, tahlilan, maupun kegiatan spiritual yang melibatkan siswa dan pihak sekolah. Di lokasi tersebut juga terdapat dua makam yang disebut-sebut sebagai makam pasangan suami istri. Namun demikian, sebagian warga mengaku tidak mengetahui secara pasti sejarah maupun asal-usul makam tersebut karena jarang mendatangi area itu.
Meski demikian, warga tetap memandang keberadaan punden tersebut sebagai bagian dari warisan yang perlu dihormati. Dalam budaya masyarakat Jawa, punden tidak sekadar dipahami sebagai tempat fisik, tetapi juga simbol penghormatan kepada leluhur serta pengingat pentingnya menjaga nilai kebersamaan, doa, dan kerukunan antarwarga.
Untuk kegiatan tradisi desa seperti manganan dan selamatan bersama, masyarakat selama ini lebih banyak berkumpul di beberapa punden lain yang masih aktif digunakan. Di antaranya yakni Punden Mbah Sungging, Punden Sekar Gading, Punden Mbah Marudin, dan Punden Mbah Seketi. Keempat punden tersebut hingga kini masih menjadi pusat kegiatan budaya dan religius warga.

Secara keseluruhan terdapat lima titik punden di wilayah desa tersebut. Empat punden aktif menjadi tempat pelestarian tradisi lokal dan doa bersama masyarakat, sementara satu punden yang berada di lingkungan SMP PGRI lebih bersifat tertutup dan digunakan secara terbatas.
Warga berharap seluruh peninggalan leluhur di wilayah desa tetap dijaga dengan baik sebagai bagian dari sejarah dan identitas budaya masyarakat. Selain menjadi simbol spiritual, keberadaan punden juga dinilai mampu mempererat nilai gotong royong, silaturahmi, dan rasa hormat kepada para pendahulu.(muslim)









